Seakan-akan jiwa terperangkap dan terbelunggu
Diantara hati dan akal yang berseteru
Ironis sekali, hati dan akal
Saat hati dan akal saling berkata lain, berdebat, tidak seia sekata
Saat hati dan akal menginginkan sesuatu yang lain
Dan akalpun mencoba menghalang hati mendapatkan yang diinginkannya
Sangat menyedihkan, bukan?
Hati dan akal selalu seirama,
Hati dan akan selalu melengkapi
Saat akal salah melangkah, hatipun datang mengingatkannya
Dan begitu sebaliknya
Namun kali ini tidak
Hati mencoba lari seperti apa yang akal inginkan
Jauh dan jauh, mencari jalan, mencari sesuatu yang lain
Mengembara, berkelana
Ketempat tempat tempat yang asing
Diisi oleh wajah –wajah yang ia tidak ia kenal
Dari satu tempat ke tempat lain
Hingga dapat melupakan apa yang ia ingin miliki
Sesaat dan hanya sesaat sayangnya
Karena sang hati telah lelah berlari
Dan ingin berhenti berlari
Dan hatipun berhenti berlari, penat sudah
Kembali pada tempatnya semula
Karena keinginan itu tidak hilang, sungguh aneh
Mungkin karena ia masih dekat, terlalu dekat
Tetapi, sang hatipun menyadari
Bahwasanya ia tidak akan pernah memiliki apa yang dia inginkan
Biarkan begini hati berkata,
Biarkanlah aku bersama waktu yang terus mengembara
Lalu apa yang hati itu inginkan?
Ternyata sekeping hati yang lain
Tapi sekeping hati itu bukan untuknya
Sanyangnya.......
1 comment:
Hati mempunyai perasaan yang akal tidak perasan
Post a Comment